Alirankatabelu's Blog

Just another WordPress.com weblog

Sebuah Kurasi tentang Social Distancing May 28, 2020

Filed under: Uncategorized — alirankatabelu @ 5:02 pm
Tags:

Masa pandemi dan beragam ceritanya membawa saya untuk meneropong lagi karya yang dibuat oleh seorang teman seniman. Mengajukan diri untuk mengkurasi karya-karyanya yang biasanya hanya dilihat ketika dia sedang berpameran ataupun melalui media sosialnya. Seniman yang kali ini berhasil saya kurasi karyanya adalah Prabu Perdana. Melihat karyanya pertama kali di sebuah gedung pameran di Kota Bandung tahun 2012 membuat saya mengikuti karya-karya lukis yang dibuatnya kemudian dan dipamerkan di beberapa kota di Indonesia.

Berikut adalah kurasi karyanya yang bertema Social Distancing – Ketidakhadiran Manusia Dalam Karya Landscape.

Gambar Pantai Selatan
Kurasi : Pandang Laut Tak Jemu

Memandang pada barisan air yang sibuk bercerita tentang langkanya manusia membuat hari menjadi abdi kebebasan untuk alam.  Mereka pun bersorak sorai tanpa kehadiran manusia yang sejatinya selalu berada di sekitar dan kadang membuat kesunyian terbentak jadi ramai.  Pantai kali ini menggambarkan lagi tentang kedalaman makna kehidupan itu sendiri.  Betapa banyaknya dorongan emosi manusia-manusia sepi yang hidup diantara bingar dan menginginkan ketentraman hati di sela riuhnya perputaran waktu.  Alam menangkap ambang batas kemanusiaan pada semesta.  Mereka yang pikuk dengan pikirannya kali ini hilang, beristirahat jiwa layaknya jiwa semesta kelautan beristirahat.  Waktunya menenangkan diri dan kembali membangun diri… Ini adalah kesempatan membenahi yang terlalu dalam menumpuk pada pikiran juga hati.  Dorongan kebermanfaatan pada hal-hal positif ketika lingkungan itu bersih dan menghasilkan vitamin segarnya.

Tanpa manusia kami tetap menderu dan bercerita , tetap memandang tengadah sambil melihat padaNYA yang membiarkan kami hidup.  Berterimakasih pada Sang Maha Pencipta untuk segar yang kembali setelah hilang sekian waktu lamanya.

Ini masa pandemic, namun bukan akhir dari segalanya untuk semesta.  Begitupula untuk manusia di luar sana yang sedang menyusun kembali langkah-langkah mereka untuk suatu hari kembali di hadapan kami dengan kebersihan yang lapang.

Gambar Potret Kota
Kurasi : Wicara Bisu

Ramai yang hilang menjadi sepi.  Dalam sekejap saja tempat-tempat yang biasanya penuh hilir-mudik akhirnya menjadi bisu.  Papan iklan menjadi saksi bisu tentang keberadaan sekitar yang tadinya penuh dengan himpitan emosi pelbagai tingkatan kelas sosial.  Cerita-cerita yang saling halang-melintang tentang pertemuan-pertemuan pun kesepakatan-kesepakatan di udara.  Komunikasi yang terdengar sangat jarang membuata siapa saja yang melewati memandang area-area itu.  Biasanya ada banyak debu-debu polusi menempel tebal di kesehariannya pada papan iklan.  Namun tak lagi, tidak ada lagi kematian pikiran tentang kekuatiran mengejar jam masuk kerja atau sekolah.  Lingkungannya senyap yang tersisa adalah pembangunan-pembangunan yang terhenti, kegiatan angin semilir dan dedaunan yang sibuk menari pada batang-batang.  Pemandangan yang langka di hari biasa dan menjadi biasa di waktu yang sepi.  Lampu jalan pun beroperasi secukupnya, tak lagi menerangi banyak penghuni jalanan.  Jalanan mengikuti masa, ada masa dimana hening kemudian ramai dan kembali hening.  Selama masih berfungsi baik, selalu ada cerita kehidupan di jalanan meski dalam keadaan tanpa manusia.

Gambar Kehidupan Urban
Kurasi : Laras di Masa Rasa

Melihat masa depan dari masa kini dimana lahan besar persawahan merubah layarnya menjadi deretan perumahan yang dibangun berdasarkan kebutuhan.  Papan merupakan kebutuhan dasar bagi manusia.  Hari ini sawah – sawah berganti rupa menjadi sekawanan beton-beton tingkat dan datar bergantung pada kebutuhan manusianya.  Kehidupan baru menurut para manusia, namun kesemuan bagi alam.  Rentetan beton dan kehidupan mengganti cerita kesuburan dan kekayaan alam semesta menjadi lingkungan-lingkungan yang mati.  Tanpa kesuburan juga kekayaan pun ketenangan.  Menatap masa depan yang lebih cerah sambil berpijak di atas kemunduran kehidupan lingkungan semesta itu sendiri.  Miris bukan?  Tapi apa boleh buat, waktu maju dan mengendurkan semua saraf alami menjadi buatan.  Perubahan membuat lingkungan tak lagi sama menjadi samar akan kehidupan yang tenang.  Dan apakah manusia-manusia berpikir tentang keselarasan itu?

Gambar Lanscape_Capture
Kurasi : Desir Menyapa

Daun-daunnya terbang! Melayang mengikuti kehendak YME dengan ketidaktahuan akan pertemuan atau sapaan – sapaan baru kelompok daun yang lainnya.  Angin membawa mereka pergi jalan-jalan menikmati dunia dimana tidak semua daun seberuntung mereka yang lepas atau terlepas juga dilepaskan inangnya.  Dalam putaran berlanjut pertemuan baru terjadi, pergerakannya kadang terlihat berlawanan layaknya emosi yang tak karuan dalam perjalanan.  Kemudian kembali tenang menandakan proses menuju hal baik lainnya ada.  Pertemuan daun-daun layaknya gambaran pertemuan para manusia yang berbicara mengenai cerita sehari-hari yang sederhana lagi seru.  Menerima sapaan dari ragam tumbuhan juga tanaman yang terlewati sepanjang jalan seperti gambaran manusia-manusia yang berproses menerima keadan-keadaan yang dijalaninya dalam pertemuan-pertemuan baru.  Daun-daunnya terus berlenggok menari senang.  Dalam putaran yang begitu cepat mereka tetap hidup dan menerima apa yang ditakdirkanNYA.  Keindahan masa itu hanya mereka yang merasa.

Gambar Landscape Capture
Kurasi : Akar Diri

Pandangan yang jauh, belum tentu sampai tapi terus mencoba.  Perjalanan jauh mencapai asa menghijaukan bumi yang belum juga subur meski waktu berputar dan usia menua.  Dalam cita-cita pencapaiannya ada keyakinan yang tumbuh untuk terus berjuang bersama teman-teman.  Dengan kesadaran yang tinggi bahwa untuk mencapainya tidak mudah.  Bisa saja muncul ketimpangan-ketimpangan.  Akan tetapi harapan hidup dan angan-angan mendapatkan kehidupan yang lebih baik mewarnai pengalaman bersama melewati ruang dan rana yang tidak mulus dan jauh dari yang dibayangkan.  Lagi-lagi nuansa luas membawa dorongan baik pada pikiran untuk bersabar meskipun lelah, berdiri tegak untuk mendapatkan perlakuan yang adil juga mempercayai mukjizat-mukjizat yang datang tiba-tiba tanpa diundang.  Menggapai cita-cita itu penuh perjuangan namun bukan berarti tidak bisa dilakukan sama sekali.  Dapat! Asalkan mau mulai berjalan.

Tali simpul :

Didalam sederetan gambar-gambarnya, Prabu melakukan refleksi yang muncul dari lingkungan sekitar.  Tentang manusia dengan segala keruwetan dan kompleksitas kehidupan yang ada di sekitarnya.  Kontemplasi menjadi bagian kecil yang dapat menentukan terbatas menjadi di luar batas.  Luar batas yang juga menjadi batasan ekstra bagaimana manusia-manusia mendapatkan pencapaiannya.  Melalui lingkungan sekitar, Prabu bercerita tentang ragam pemikiran manusia, jatuh bangunnya sebuah kehidupan juga perkenalan-perkenalan yang membawa perspektif baru untuk dijalankan atau diaplikasikan dalam kehidupan.

Alam memiliki keterikatan batin dengan manusia senantiasa mengingatkan bahwa kita adalah si kecil yang belajar merangkak, melangkah kemudian berjalan dan kadang berlari untuk mengejar impian-impian saat kecil.  Alam mengajarkan kita yang kecil dan mereka yang luas dan sesuatu di luar sana yang Maha.  Maha mengetahui setiap sisi pemikiran manusia dan menghantarkannya pada pencapaian mimpi.

Siapa yang percaya pada mukjizatNYA akan ditunjukan jalan-jalan rahasia menuju keberhasilan.

Siapa yang percaya pada mimpinya dialah yang akan menjadi pemenang kehidupan.

Siapa yang bersyukur untuk segala terpaan dan himpitan cobaan dia juga yang akan mendulang banyak senyuman dari dunia.

Gambar-gambarnya dibuat jauh sebelum masa pandemic, akan tetapi suara dalam setiap guratan gambarnya memberi aba-aba tentang apa itu social distancing dan perlunya menyadari hal-hal yang sering dilupakan manusia.  Seperti maraknya manusia yang mengunjungi pantai dan pulang dengan memberikan banyak sampah di pantai juga lautan.  Pun terlalu bergerumul dalam sebuah lingkungan perkotaan karena banyak sebab yang menghasilkan pandangan lingkungan yang juga kurang menyenangkan ditambah dengan kebisingan-kebisingan lainnya.  Terlalu senangnya manusia membangun sesuatu yang menyebabkan lingkungan tak lagi nyaman dan menimbulkan kekuatiran-kekuatiran di masa yang lebih jauh lagi.  Meski begitu dalam deretan gambar, Prabu juga tetap melekatkan pentingnya kesadaran diri untuk tetap mempercayai kehendak Yang Maha Esa akan proses-proses kehidupan yang berjalan.  Social distancing bukan merupakan akhir melainkan jembatan lain menuju kebiasaan berikutnya yang akan muncul.  Bagaimanapun itu nanti grafik keberhasilannya, selalu ada upaya baik yang dilakukan menuju esok yang lebih terang.

Kurasi oleh Belinda JK

27.05.2020